Radar Pangkalan Bun

Perampokan Bos Bina Usaha Direkonstruksi

Korban Tewas Disekap Pakai Jaket dan Terbentur Lantai
Widodo | Rabu, 22 Mei 2013 - 15:56:47 WIB

PANGKALAN BUN, Kasus perampokan disertai dengan pembunuhan yang menimpa pemilik Toko Bina Usaha yang berdomisili di Kelurahan Raja Seberang RT 02 Kecamatan Arut Selatan direkonstruksi di Markas Polres Kotawaringin Barat (Kobar) kemarin. Empat tersangka, yaitu Dian (pembantu korban) Buriono alias Burih, Fathorasi alias Fat, dan Sumahri alias Hasain memeragakan serangkaian adegan perampokan. Sementara tiga tersangka lain hingga kini belum tertangkap.

Dalam rangkaian rekonstruksi diawali dari perencanaan perampokan oleh enam tersangka di sebuah warung, Kelurahan Raja Seberang. Sambil minum kopi, mereka berbincang kemudian satu di antara enam perampok bernama Sumahri melakukan komunikasi dengan pembantu korban bernama Dian.

“Isi SMS-nya adalah pembantu menunjukkan bahwa korban masih berada di gereja, belum datang,” ungkap Kapolres Kobar AKBP Novi Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Juyanto kemarin (20/5).

Setelah target pulang ke rumah, tersangka Parno lebih dulu survei sasaran. Setelah mendapat informasi, mereka datang ke rumah korban. Parno yang lebih dulu berada di tempat kejadian perkara (TKP) mengatakan bahwa kondisi aman.

“Setelah aman, rombongan perampok masuk, sementara Sentana Candra Halim (korban) sedang duduk di depan. Sesampainya di hadapan korban, para pelaku berpura-pura meminta pekerjaan. Karena tidak ada pekerjaan, akhirnya para pelaku meminta uang Rp 300 ribu untuk ongkos pulang,” ungkap Juyanto.

Setelah para pelaku meminta uang, Sentana Candra Halim memanggil Istrinya kemudia istri keluar ikut duduk di depan mengobrol. Tidak lama sang istri masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan uang Rp 300 ribu.  Dari belakang, Sentana ikut masuk ke dalam rumah. Saat berada di ruang tamu, salah satu pelaku menyekap Sentana dengan jaket hingga korban terjatuh dan kepalanya terbentur lantai hingga tewas.

Setelah itu para pelaku mengejar istri korban ke kamar untuk memaksa menunjukkan uang dengan mengikat tangannya. Sambil mengacak-acak seisi kamar, para pelaku berhasil mengambil uang dan beberapa perhiasan yang nilainya sekitar Rp 50 juta.

“Kemudian pembantu yang mengetahui kejadian itu keluar dan pura-pura diikat juga hingga akhirnya diangkat dan disekap di dalam toilet,” terangnya.

Setelah semua aksinya berhasil, kawanan perampok ini keluar dengan santai dan menyeberang kembali ke Pangkalan Bun menggunakan kelotok milik salah seorang warga tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun.

Menurut Juyanto, peran pembantu korban dalam rekonstruksi ini sangat jelas, bahwa komunikasi yang dilakukan sudah sejak berada di Banjarmasin sampai berada di TKP.

Lebih lanjut Juyanto mengatakan, alat bukti sudah cukup, tetapi jaksa penuntut umum (JPU) meminta rangkaian peristiwa perampokan itu diulang. Sedangkan untuk tersangka lainnya yang hingga saat ini masih menjadi buronan tetap akan menjadi target polisi.

“Kita kejar terus, identitas sudah jelas. Untuk rekonstruksi ini memastikan bahwa empat tersangka yang kita tangkap yakin bahwa ini telah terjadi tindak pidana. Pasal yang kita gunakan adalah 365 tentang pencurian disertai kekerasan (curas) dengan ancaman di atas 15 tahun penjara,”pungkasnya. (sam)

 





Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)